Batam Kepri Berada Ketinggalan Jauh Diposisi 12 Untuk PMA, Sedangkan Investasi PMDM Diposisi 23 Kalah Jauh dengan Bengkulu dan Riau

Must read

NagoyaNews – Bahlil Lahadalia, Kementerian Investasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi Triwulan IV dan Januari-Desember 2022 mencapai Rp 1.207,2 triliun.

Bahlil Lahadalia mengatakan angka ini tumbuh 34% dari tahun sebelumnya. Dia pun mengungkapkan bahwa realisasi penyerapan tenaga kerjanya mencapai 1.305.000 juta tenaga kerja.

Batam Kepulauan Riau berada jauh ketinggalan di posisi 23 realisasi triwulan IV 2022 untuk PMDM dengan nilai investasi 1.061,4 Miliar kalah jauh dengan Bengkulu dan Riau sedangkan untuk PMA berada di posisi 12 dengan nilai investasi 273,9 Miliar.

Lima besar daerah di tanah air ini dalam investasi (PMDM dan PMA) antara lain: Jawa Barat (174,6 T), DKI Jakarta (143,0 T), Sulawesi Tengah (111,2 T), Jawa Timur (110,3 T) dan Riau (82,5 T).

Dari total realisasi, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 552,8 triliun atau tumbuh 23,6% dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 654,4 atau naik 44,2% dari tahun 2021.

Secara sektor, realisasi investasi terbesar dibukukan oleh sektor Industri Logam Dasar, Barang Logam, Transportasi, Gudang Industri Kimia Bukan Mesin dan Peralatannya dengan nilai Rp 171,2 triliun. Posisi kedua pertambangan dengan perolehan Rp 136,4 triliun dan ketiga, Transportasi, Gudang dan Telekomunukasi sebesar Rp 134,3 triliun.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Kepri Akhmad Ma’ruf Maulana menyampaikan rasa kekecewaan atas hasil realisasi yang di capai oleh Kota, Kabupaten se-Provinsi Kepri.

“Saya sebagai ketua umum Kadin Provinsi Kepri sangat malu kita kalah sama Riau yang menjadi urutan ke 6 tujuan tempat investasi,” ucap Ma’ruf.

Ma’ruf menambahkan sebaiknya kepala daerah, Walikota, BP Batam, Bupati, Gubenur, melakukan evaluasi kinerja aparatur sipil kenapa ini bisa terjadi dan harus melakukan loncatan-loncatan perubahan birokrasi. Karena sebagai Ketua Umum Kadin Provinsi Kepri sangat sesak birokrasi yang ada mahal dan berbelit-belit.

”Ada kekuatan-kekuatan kepentingan perizinan yang sengaja di bikin mahal dan tidak ramah serta tidak adanya kepastian tempat berusaha. Inilah yang membuat Batam dan Kepri bukan lagi tempat tujuan tempat investasi,” tambah Ma’ruf.

Untuk menjawab hal tersebut, Ma’ruf mengatakan pihaknya akan melakukan loncatan-locatan promosi investasi ke Jepang, Jerman dan Amerika untuk membuat Batam dan Kepri menjadi tujuan tempat investasi.

”Di bulan februari ini kami akan berangkat ke Amerika untuk promosi investasi BBK Murah dan disana sudah ada perusahaan amerika yang mau investasi. Selain itu kami di bulan 4 ke jerman ada penandatanganan investasi di Jerman, Insyaallah semua kami lakukan agar Batam dan Kepri supaya jadi tempat tujuan investasi. Minimal menjadi 10 besar kembali,” ujar Ma’ruf.

More articles

spot_img

News Update