4 Fakta Soal Buaya Sungai Mahakam Pulangkan Jasad Balita Utuh ke Keluarga

Must read

NagoyaNews – Viral di media sosial seekor buaya di Sungai Mahakam ‘antar’ jasad balita asal Kutai Kartanegara (Kukar). Jasad balita tersebut ditemukan beberapa hari setelah menghilang.

Dalam video yang beredar, terlihat seekor buaya di perairan Muara Jawa, Kutai timur (Kutim), membawa jasad balita bernama Muhammad Ziyad Wijaya (4) yang disimpan di mulutnya. Buaya itu perlahan mengarah ke tepi sungai.

Peneliti satwa liar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amir Ma’ruf, mengungkap dugaan buaya muara memulangkan jasad balita korban tenggelam ke keluarganya di tepi Sungai Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) karena sudah sering diberi makan oleh warga.

“Jadi itu buaya itu kan mungkin sudah berapa kali sering dikasih makan,” ungkap Amir Ma’ruf, Sabtu (21/1/2023).

Amir mengemukakan, situasi ini sebagai hubungan timbal balik antara manusia dan binatang. Hal itu lantas membuat buaya tersebut menganggap korban bukanlah mangsanya.

Berikut ini sederet fakta yang diketahui terkait berita viralnya buaya Sungai Mahakam antar jasad balita, Minggu (22/1/2023):

1. Buaya Antar Jasad Balita Ditemukan Setelah 2 Hari Hilang

Jasad balita bernama Muhammad Ziyad Wijaya (4) telah menghilang selama dua hari, sebelum akhirnya ditemukan tewas. Diketahui, Muhammad Ziyad Wijaya tenggelam saat bermain di Sungai Mahakam, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Jasad korban dibawa oleh seekor buaya ke tepi sungai. Pihak keluarga saat itu tengah menunggu di sana.

“Tadi pagi saat tim bergerak melakukan pencarian orang hilang hari kedua, sekitar jam 7 pagi tim mendapat informasi keluarga bahwa mereka melihat ada seekor buaya membawa jasad manusia. Setelah dilepas ternyata jasad itu anak yang kita cari,” ungkap Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Kaltim Melkianus Kotta, Jumat (20/1).

Melkianus mengatakan orang yang pertama kali melihat buaya antar jasad balita tersebut adalah sekuriti perusahaan di sekitar lokasi. Saat itu sekuriti melihat buaya tengah berenang dengan membawa tubuh korban.

2. Jasad Balita Ditemukan Tewas dalam Kondisi Tubuh Utuh

Seperti diketahui, Muhammad Ziyad Wijaya sudah dua hari hilang. Namun kemudian jasad korban ditemukan tewas, tapi diantar oleh seekor buaya dalam kondisi tubuh masih utuh.

Jasad korban ditemukan utuh di perairan Muara Jawa, Kutai Timur. Saat itu korban dibawa dari tengah sungai menuju ke tepi sungai dan telah ditunggu oleh pihak keluarga.

“Jaraknya dari lokasi kejadian itu 1,5 kilometer. Saat buaya berada di dekat keluarga, langsung dilepaskan korban,” tutur Melkianus.

3. Penjelasan Peneliti Satwa soal Buaya Antar Jasad Balita

Perihal fenomena seekor buaya Sungai Mahakam antar jasad balita, peneliti satwa liar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amir Ma’ruf memberikan penjelasannya. Amir mengatakan buaya itu dimungkinkan sudah sering diberi makan oleh manusia.

“Jadi itu buaya itu kan mungkin sudah berapa kali, sering dikasih makan,” ujar Amir, Sabtu (21/1).

Amir mengatakan kedekatan buaya dengan manusia di sekitar habitatnya bisa menjadi salah satu faktor. Dia juga mengatakan buaya itu sudah terbiasa dengan makanan tertentu.

“Jadi semacam sudah terbiasa dengan orang-orang. Nah, kemudian, karena dia sudah terbiasa dengan jenis makanan tertentu,” kata Amir.

“Karena satwa pada umumnya, anggaplah bisa memenuhi timbal balik dengan manusia. Misalnya bukan hanya buaya, yang lain pun seperti itu, terus sering berinteraksi, bagi dia (jasad balita) itu bukan makanannya,” katanya.

4. Kata Peneliti Satwa Terkait Mitos Warga Asli Kalimantan

Fenomena seekor buaya Sungai Mahakam antar jasad balita turut diwarnai mitos warga asli Kalimantan tidak pernah dimangsa buaya. Peneliti satwa liar dari BRIN Amir Ma’ruf buka suara. Amir memahami warga Kalimantan atau orang lokal biasanya memiliki kearifan lokal soal buaya.

“Contoh orang Dayak, orang Dayak punya kearifan lokal. Satu, mereka sudah tahu tempat-tempat di mana ada buaya, mereka sudah tahu perilaku buaya. Artinya, ketika buaya makan jam berapa, mereka tahu, akhirnya mereka menghindari (dimangsa buaya),” ujar Amir Ma’ruf, Sabtu (21/1).

Dia mengatakan kondisi itu berbanding terbalik dengan orang dari luar Kalimantan. Menurutnya, warga dari luar Kalimantan cenderung tak tahu banyak soal buaya sehingga menjadi rentan diserang.

“Orang di luar itu, bisa dibilang mereka nggak ngerti. Contoh orang luar, buaya pas jam makan, dia ada dimakanlah, dianggaplah sebagai mangsa,” katanya.

Amir tak menampik, ada mitos lain terkait buaya, yakni adanya hubungan kekerabatan buaya dengan manusia. Masyarakat yang tinggal di Pulau Kalimantan sebagian besar banyak mempercayai hal itu.

More articles

spot_img

News Update