ANSAR dan RUDI Sama Sama Mempertahankan POLITIK DINASTI

Must read

Nagoyanews – Batam, Fenomena politik dinasti di Indonesia sudah ada sejak lama termasuk di Provinsi Kepulauan Riau. Pada Pilkada 2020 lalu, baik dalam pemilihan Gubernur maupun Wali Kota dan Bupati terdapat beberapa calon yang berasal dari satu garis keturunan. Seperti Muhammad Rudi yang maju sebagai calon Wali Kota Batam untuk periode kedua, sedangkan sang istri, Marlin Agustina maju sebagai calon Wakil Gubernur Kepri. Sama halnya dengan Ansar Ahmad yang maju sebagai calon Gubernur Kepri dan sang anak, Roby Kurniawan yang maju sebagai calon Wakil Bupati Bintan dan saat ini sudah ditunjuk menjadi PLT Bupati Bintan. Dengan adanya politik dinasti dikhawatirkan akan membuat kekuasaan didominasi oleh satu garis keturunan keluarga saja.

Secara sederhana, politik dinasti merupakan sebuah upaya untuk mengarahkan regenerasi kekuasaan bagi kepentingan golongan tertentu untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan di suatu negara. kata “dinasti” sendiri dalam kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai keturunan raja-raja yang memerintah atau semua yang berasal dari satu keluarga. Karena politik di Indonesia menganut sistem demokrasi, dan bukan kerajaan ataumonarki, maka munculah istilah politik dinasti.

Menjelang pesta demokrasi 2024, Tak hanya calon pertahanan, sejumiah nama tokoh masyarakat maupun tokoh partai politik (parpol), hingga tokoh muda terus memperkenalkan diri mereka ke
masyarakat, baik melalui media sosial (medsos) hingga spanduk dan baliho ucapan selamat hari raya idul fitri yang terpampang di sepanjang jalan. Bahkan beberapa spanduk dan baliho tersebut dipasang di pohon-pohon yang ada di sepanjang jalan Kota Batam. Seperti Wali Kota Batam Muhammad Rudi yang saat ini sudah mulai menampilkan sosok putranya Randi Zulmariadi Rudi yang diperkirkan akan turut naik panggung dalam pesta demokrasi mendatang. Tidak jauh berbeda, Gubernur Kepri Ansar Ahmad juga sudah berhasil menempati sang istri di kursi DPRD Provinsi Kepri. Seolah-olah Ansar dan Rudi Berlomba-lomba untuk mempertahankan politik dinastinya.

“Kalau sudah mau dekat dekat pilkada atau pemilu pasti banyak spanduk yang di pasang di pohon-pohon, jujur gak enak dipandang dan kesannya memaksakan. coba kalo di pasang sesuai tempatnya, kan kesannya rapi dan sesuai aturan juga”, pungkas Syahdu Damanik salah satu warga. Hal ini juga dinilai merusak estetika taman jalan. Terkait hal ini, Syahdu merasa dinas terkait seolah-olah diam dan tidak berani mengambil tindakan tegas. Selain itu, dia juga merasakan semakin kesini, politik dinasti di Kepri semakin tidak terbendung. Padahal menurutnya, masih banyak sosok-sosok politikus dan pengusaha yang kompeten, berintegritas, dan layak untuk maju dan diberi dukungan. Syahdu berharap semoga di pilkada 2024 nanti, akan banyak sosok sosok baru yang bermunculan, sehingga di 2024 pesta demokrasi khususnya di Kepri lebih semarak dan bertabur wajah-wajah baru.

Pertanyaannya, sampai kapan spanduk dan baliho tersebut terpasang tidak sesuai aturan dan sampai kapan politik dinasti bertahan di Kepri?. Apakah masyarakat terkhusus Kabupaten/Kota se-Provinsi Kepri masih akan tetap terbuai dengan eksistensi politik dinasti?

Editor: Simamora

More articles

spot_img

News Update