Jarak Dua Dosis Vaksin Astrazaneca hingga 12 Minggu, Ini Alasannya

Must read

Nagoya News, JAKARTA- Berbagai jenis vaksin Covid-19 telah didistribusikan ke Indonesia, beberapa di antaranya seperti Sinovac, Sinopharm, Moderna, dan AstraZeneca.

Masing-masing jenis vaksin ini memiliki sejumlah perbedaan, termasuk interval pemberian dosis pertama dan dosis kedua. Untuk Sinovac, jarak penyuntikan dari dosis pertama dan kedua adalah 14-28 hari. Begitu pun untuk vaksin Moderna dan Pfizer, yang memiliki jarak pemberian berkisar 21-28 hari.

Namun, jarak yang cukup lama ada pada vaksin Covid-19 AstraZeneca. Kurang lebih diperlukan waktu 4-12 minggu untuk penyuntikan dosis kedua setelah penyuntikan pertama. Mengapa demikian?

Dokter spesialis penyakit dalam dan vaksinolog, Dirga Sakti Rambe menjelaskan alasan vaksin AstraZeneca memiliki jarak atau interval yang cukup panjang antara dosis pertama dan kedua.

Menurutnya, jarak ini ditetapkan setelah dilakukan uji klinis berulang kali pada manusia.

“Jarak ini didapat dari penelitian, jadi saat uji klinis kita uji coba,” kata Dirga saat melakukan siaran live bersama Kementerian Kesehatan, Rabu (25/8).

Saat uji klinis dilakukan, penyuntikan dosis kedua dilakukan dalam beberapa tahap. Mulai dari siklus 14 hari, 21 hari, 28 hari hingga tiga bulan.

Hasilnya ditemukan bahwa antibodi terbaik yang terbentuk dari vaksin AstraZeneca didapat dari penyuntikan 12 minggu atau tiga bulan.

“Setelah 12 minggu atau tiga bulan itu antibodi sangat bagus. Makanya, inilah alasan mengapa AZ ini bisa sampai 12 minggu,” kata Dirga.

Dalam kesempatan yang sama, Dirga juga mengingatkan agar masyarakat tak sembarangan mengonsumsi obat sebelum melakukan vaksinasi Covid-19. Apa pun jenis vaksinnya tak dianjurkan mengonsumsi obat selain obat-obatan rutin sebelum vaksin.

“Kalau obat rutin, misal obat diabetes harus tetap diminum. Tapi kalau obat demam misal paracetamol jangan diminum sebelum vaksin,” katanya.

Dirga juga menjelaskan alasan seseorang masih bisa terpapar Covid-19 setelah vaksinasi dilakukan. Hal ini bisa terjadi, salahnya satunya yakni sebelum vaksin tanpa sadar orang tersebut telah terpapar Covid-19.

Tak ada bukti ilmiah manapun yang menyebut bahwa vaksin Covid-19 bisa menyebabkan seseorang positif Covid-19.

“Jadi jangan salah kaprah, yang terpapar Covid-19 setelah vaksin itu dia terkena Covid sebelum vaksin, tapi baru muncul reaksi beberapa hari kemudian. Ini bisa terjadi,” katanya. (cnn)

More articles

spot_img

News Update