Sekolah Tatap Muka Tak Semudah Dibayangkan, Protokol Kesehatan Anak Lebih Sulit

Must read

JAKARTA, NAGOYAnews.net – Pemerintah berencana memulai kegiatan belajar-mengajar tatap muka di sekolah di daerah yang berzona hijau atau kuning Virus Corona atau COVID-19. Menanggapi itu, Satuan Tugas COVID-19 Jawa Timur berharap agar pelaksanaan rencana itu dilakukan dengan sangat berhati-hati. Ada tahapan-tahapan yang perlu dilakukan.

Ketua Rumpun Kuratif Satgas COVID-19 Jawa Timur Joni Wahyuadi mengatakan, memang kasus anak-anak terpapar Corona tidak terlalu banyak. Hal itu yang mungkin jadi dasar pemikiran akan dibukanya lagi kegiatan sekolah, selain pertimbangan zonasi yang sudah ditetapkan sebagai syarat.

Baca juga: Ini Ramalan Bill Gates Kapan Corona Berakhir

Namun, Joni mengingatkan gejala atau akibat klinis yang ditimbulkan pada anak-anak yang terpapar Corona itu berbeda dengan orang dewasa. Di sisi itulah kehati-hatian perlu diterapkan. Kehati-hatian diperlukan mengingat prilaku anak-anak yang cenderung sulit dikendalikan, apalagi untuk tingkat Sekolah Dasar.

“Jadi, untuk anak-anak mesti harus lebih hati-hati, karena penerapan protokol kesehatan pada anak-anak itu lebih sulit. Mereka kalau sudah ketemu kawannya seperti itu, makanya harus hati-hati,” kata Joni di Gedung Negara Grahadi Surabaya, dikutip Minggu 9 Agustus 2020.

Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya itu berpendapat, pertama, idealnya sekolah tatap muka baru boleh dibuka hanya di daerah yang berzona hijau, yang tingkat penularan atau rate of transmission (Rt)-nya di bawah angka satu. Dan sudah tidak kasus lagi selama beberapa hari sebagaimana panduan WHO atau pemerintah.

“Artinya, peluang timbulnya penyakit kecil,” ujar Joni.

Kedua, lanjut dia, sebelum betul-betul dibuka, harus dilakukan prakondisi, yakni dengan menggelar percobaan atau simulasi. “Simulasinya itu seakan-akan anak-anak. Jangan simulasi ala dewasa, tapi anak-anak. Prilaku anak-anak itu bagaimana,” tambahnya.

Ketiga, proteksi ketat tetap harus diterapkan. Dua minggu sekali harus dievaluasi, jika perlu ada tes kesehatan secara periodik, seperti dilakukan kepada tenaga kesehatan di rumah sakit.

“Anda lihat pengalaman di China, masuk (sekolah) anak-anak dengan kayak begitu proteksinya, tapi apa yang terjadi, dua minggu kemudian 70 positif. Oleh karena itu harus hati-hati,” kata Joni.

Karenanya ditegaskan simulasi diperlukan. Joni juga berpendapat, pembukaan sekolah harus dilakukan secara bertahap. Tidak secara langsung kepada semua jenjang.

“Dimulai dari anak SMA kemudian turun-turun ke belakang. Kenapa anak SMA? Karena mereka lebih bisa diajak komunikasi. Bayangkan kalau anak TK dan SD,” ujarnya. (esp)

Sumber: viva.co.id

More articles

spot_img

News Update