Dampak Covid-19, Ekonomi Eropa Ambruk 7,3 % dan Indonesia Turun Signifikan

Must read

NAGOYANEWS.NET – Prospek pertumbuhan ekonomi global bakal merosot gara-gara merebaknya Corona (COVID-19). Hal ini juga terjadi karena upaya pencegahan penyebaran yang menyebabkan penghentian mendadak aktivitas ekonomi di berbagai negara.
Laporan IMF yang baru saja dirilis ini menyatakan bahwa performa ekonomi di 19 negara anggota zona euro diperkirakan ambruk sebesar 7,5 persen pada tahun 2020. Inggris, yang baru saja meninggalkan Uni Eropa pada Januari, diperkirakan akan mengalami kontraksi ekonomi sebesar 6,5 persen. IMF menyimpulkan bahwa kawasan Eropa secara keseluruhan kemungkinan besar akan melihat kinerja terburuk di dunia.

Namun, di tengah kabar mendung ini, laporan IMF masih mengirimkan sinyal optimisme dan mengatakan bahwa jika COVID-19 bisa terkendali pada paruh kedua tahun ini dan ekonomi di seluruh dunia dapat mulai beroperasi lagi, diperkirakan akan ada rebound sebesar 5,8 persen pada tahun 2021. Namun pesan itu datang dengan peringatan bahwa adanya kesulitan dalam membuat perkiraan yang akurat di tengah situasi yang berubah dengan cepat.

Baca juga: Walikota Tanjungpinang Wafat Setelah Dua Pekan Lebih Dirawat Karena Covid-19

“Ada ketidakpastian ekstrem seputar perkiraan pertumbuhan global. Dampak ekonomi tergantung pada faktor-faktor yang berinteraksi dengan cara-cara yang sulit diprediksi, termasuk jalur pandemi, intensitas dan kemanjuran upaya penahanan, tingkat gangguan pasokan, dampak pengetatan yang dramatis dalam kondisi pasar keuangan global, pergeseran pola pengeluaran, perubahan perilaku (seperti orang menghindari mal dan transportasi umum), efek kepercayaan, dan harga komoditas yang fluktuatif,” tulis IMF dalam laporannya.

Sedangkan menurut buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI), kondisi ini berdampak pada penurunan harga komoditas secara signifikan dan menciptakan ketidakpastian yang tinggi di pasar keuangan global dan volatilitas aliran dana di negara berkembang.

“Dalam waktu singkat, dampaknya terasa di perekonomian Indonesia baik di perdagangan, pariwisata dan investasi,” dikutip dari buku KSK, Selasa (28/4/2020) sebagaiman diberitakan detik.com.

Baca juga: Pencabutan Isu Tenaga Kerja di Omnibus Law Berisiko Tinggi Pada Kehidupan Sosial

Kemudian disebutkan tekanan tersebut membuat perekonomian domestik lemah setelah COVID-19 menyebar di Indonesia. Oleh karena itu BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi domestik pada 2020 akan menurun.

Namun meskipun dalam tekanan, stabilitas sistem keuangan Indonesia diproyeksi tetap terjaga dengan ditopang ketahanan perbankan. Cuma di sisi lain penyaluran kredit baru pada paruh pertama 2020 masih terbatas dan risiko kredit berpotensi meningkat.

Pemicunya adalah kinerja perdaganga perdagangan dunia terganggu, rantai produksi global terganggu, terjadi depresiasi nilai tukar rupiah, serta menurunnya permintaan domestik.
Penyebaran COVID-19 ini turut mengganggu produksi, aktivitas ekonomi, penurunan permintaan tenaga kerja, tertahannya pendapatan dan konsumsi sehingga dapat mengurangi permintaan domestik.

Baca juga: Jokowi Tunda Pembahasan RUU Cipta Kerja, Arief: Kinerja Menaker Ida Fauziah Harus Dievaluasi

Lalu meningkatnya ketidakpastian tersebut mendorong investor menyesuaikan portofolionya sehingga menyebabkan aliran dana keluar dan menekan nilai tukar rupiah.

“Apabila imbas dari penyebaran COVID-19 terus berlanjut maka risiko kredit korporasi dan rumah tangga akan lebih besar karena akan menyebar ke banyak sektor dan berpotensi menekan kinerja industri keuangan, terutama perbankan,” tulisnya.

More articles

spot_img

News Update