Wednesday, August 10, 2022

81 Fintech Ilegal Muncul Selama April dengan Modus Seperti Ini

Must read

NAGOYANEWS.NET – Perusahaan dan atau pembuat aplikasi nakal masih terus berkeliaran. Bahkan selama pandemi Covid-19 ini, Satgas Waspada Investasi menemukan menemukan 81 fintech peer to peer lending ilegal. Masyarakat diminta waspada agar tidak mudah tergiur oleh tawaran perusahaan atau aplikasi ilegal.

Jumlah 81 fintech itu ditengarai muncul sepanjang April 2020. Saat ini, total yang telah ditangani Satgas Waspada Investasi sejak tahun 2018 hingga April 2020 sebanyak 2.486 entitas. Meskipun jumlah yang ditangani cukup banyak, namun setiap bulannya juga terus bermunculan fintech ilegal baru yang akan menjerat masyarakat.

Menurut Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L. Tobing dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4), sebagaimana dikutip dari kontan.co.id., mengatakan, penawaran pinjaman dari fintech lending yang tidak berizin sangat merugikan masyarakat, karena selain mengenakan bunga yang sangat tinggi dan jangka waktu pinjaman pendek, mereka juga akan meminta akses semua data kontak di handphone.

Baca juga: Dampak Covid-19, Ekonomi Eropa Ambruk 7,3 % dan Indonesia Turun Signifikan

“Ini sangat berbahaya, karena data ini bisa disebarkan dan digunakan untuk alat mengintimidasi saat penagihan,” kata Tongam.

Tongam juga meminta agar masyarakat yang memanfaatkan pinjaman fintech lending menggunakan dananya untuk kepentingan yang produktif dan bertanggungjawab untuk mengembalikan pinjaman tersebut sesuai waktu perjanjian.

Selain itu, pada April ini, Satgas Waspada Investasi juga menghentikan 18 kegiatan usaha yang diduga melakukan kegiatan usaha tanpa izin dari otoritas yang berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat. Berikut modus yang 45terkini.com rangkum dari keterangan tersebut.

1. Memanfaatkan Situasi Pandemic

Menurut keterangan Tobing, munculnya perusahaan fintech ilegal itu karena memanfaatkan situasi sulit disebabkan pandemi Covid-19. Akibat virus ini, banyak yang tidak mendapatkan penghasilan sesuai target keungan sementara mereka memiliki kewajiban pengeluaran.

Baca juga: Jokowi Tunda Pembahasan RUU Cipta Kerja, Arief: Kinerja Menaker Ida Fauziah Harus Dievaluasi

“Saat ini masih marak penawaran fintech lending ilegal yang sengaja memanfaatkan kesulitan keuangan sebagian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sasaran mereka adalah masyarakat yang membutuhkan uang cepat untuk memenuhi kebutuhan pokok atau konsumtif,” kata dia sebagaimana dikutip dari kotan.co.id.

2. Memanfaatkan Ketidakpahaman Masyarakat

Modus penawaran investasi 18 perusahaan ini sangat merugikan karena memanfaatkan ketidakpahaman masyarakat untuk menipu dengan cara iming-iming pemberian imbal hasil yang sangat tinggi dan tidak wajar.

Banyak di antara warga yang telah kesulitan mengambil jalan pintas untuk menerima tawaran pinjaman daring dari fintech ilegal. Tidak sedikit pula yang memilih investasi melalui laman daring karena iming-iming profit dan imbalan yang cukup besar dalam waktu yang singkat pula.

Baca juga: Pencabutan Isu Tenaga Kerja di Omnibus Law Berisiko Tinggi Pada Kehidupan Sosial

3. Menduplikat laman Resmi

Menurut, Tobing, dari 12 kegiatan yang tlah ditangani itu, banyak juga kegiatan yang menduplikasi laman entitas yang memiliki izin sehingga seolah-olah laman tersebut resmi milik entitas yang memiliki izin.

Diplikasi laman resmi sebuah perusahaan memang kerap dilakukan oleh penipu yang memanfaatkan teknologi internet. Oleh sebab itu, masyarakat perlu jeli dan waspada apabila hendak melakukan transaksi melalui aplikasi fintech.

4. Bentuk Usahanya Beragam

Dari 18 entitas tersebut di antaranya melakukan kegiatan sebagai berikut 12 penawaran investasi uang tanpa izin; dua multi level marketing (MLM) tanpa izin, satu perdagangan forex tanpa izin, satu cryptocurrency atau crypto asset tanpa izin, satu kegiatan undian berhadiah tanpa izin; dan satu investasi emas tanpa izin.

Baca juga: Pengurus MUI Pusat Kecam Pernyataan Mahfud MD Terkait Covid-19

Satgas Waspada Investasi meminta kepada masyarakat agar sebelum melakukan pinjaman di fintech lending ataupun berinvestasi di sektor keuangan untuk memahami dan memastikan pihak yang menawarkan pinjaman fintech lending atau investasi tersebut memiliki perizinan dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan.

More articles

spot_img

News Update